Detail Berita

image

Melihat Sejarah dari Dua Sisi

Bogor, 11 Agustus 2026 — Sejarah bukan sekadar deretan tanggal, nama tokoh, dan peristiwa yang harus dihafalkan. Di balik setiap peristiwa masa lalu terdapat proses, latar belakang, serta kondisi sosial yang saling berkaitan. Cara memahami keterkaitan tersebut menjadi fokus pembelajaran Sejarah di kelas X.C MAN 5 Bogor yang dibimbing oleh Bapak Febry, S.Pd., melalui materi Hakikat Sejarah, Diakronik, dan Sinkronik pada Selasa (11/8/2026).

Pembelajaran diawali dengan mengajak peserta didik memahami kembali hakikat sejarah sebagai kajian mengenai kehidupan manusia pada masa lampau yang memiliki keterkaitan dengan kehidupan masa kini. Dari pemahaman tersebut, peserta didik kemudian diperkenalkan pada dua cara berpikir penting dalam kajian sejarah, yaitu diakronik dan sinkronik.

Diakronik mengajak peserta didik melihat sebuah peristiwa berdasarkan alur dan perkembangan waktu. Sementara itu, sinkronik mengarahkan mereka untuk mengamati sebuah peristiwa secara lebih mendalam dalam ruang dan konteks tertentu pada suatu kurun waktu.

Perbedaan sudut pandang tersebut kemudian tidak berhenti pada penjelasan teori. Peserta didik diberikan tantangan untuk mencari satu kisah atau peristiwa sejarah, kemudian menganalisisnya menggunakan pendekatan diakronik dan sinkronik.

Tugas tersebut membuat peserta didik tidak sekadar mencari informasi dan menyalinnya. Mereka harus menentukan sumber, memilah informasi, memahami kronologi, kemudian melihat kondisi sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang melingkupi peristiwa tersebut.

Di sinilah pembelajaran sejarah menjadi lebih hidup. Sebuah peristiwa yang sama dapat memberikan pemahaman berbeda ketika dilihat dari perjalanan waktunya dibandingkan ketika dikaji secara mendalam berdasarkan kondisi masyarakat pada masa tersebut.

Melalui proses tersebut, peserta didik belajar bahwa memahami sejarah membutuhkan kemampuan untuk bertanya, membandingkan, menganalisis, dan menarik kesimpulan berdasarkan sumber yang dapat dipercaya. Mereka juga mendapatkan ruang untuk mengeksplorasi berbagai sumber sejarah dan mengolahnya menjadi sebuah kajian sederhana.

Pembelajaran ini sekaligus memperkuat sejumlah Dimensi Profil Lulusan. Kemampuan bernalar kritis berkembang ketika peserta didik menyeleksi dan menganalisis informasi sejarah. Sikap mandiri tumbuh melalui proses pencarian dan pengolahan sumber, sementara kreativitas serta kemampuan komunikasi berkembang ketika hasil kajian disajikan dan didiskusikan.

Tidak kalah penting, pembelajaran sejarah juga menjadi ruang untuk membangun karakter. Peserta didik dibiasakan bersikap jujur dalam menggunakan sumber, menghargai fakta sejarah, serta bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaan. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari upaya membentuk peserta didik yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki integritas.

Nilai Panca Cinta turut diintegrasikan dalam pembelajaran. Cinta Allah SWT diwujudkan melalui kesadaran untuk mengambil hikmah dari perjalanan kehidupan manusia dan mensyukuri berbagai nikmat yang diberikan. Cinta Ilmu tumbuh melalui semangat menggali informasi serta memahami sejarah secara objektif berdasarkan sumber yang terpercaya.

Sementara itu, Cinta Sesama ditanamkan melalui penghargaan terhadap pengalaman, perjuangan, dan kehidupan manusia pada masa lalu. Cinta Lingkungan diwujudkan melalui kepedulian terhadap warisan sejarah dan budaya yang perlu dijaga. Adapun Cinta Bangsa diperkuat dengan memahami perjalanan sejarah Indonesia sebagai fondasi untuk menumbuhkan nasionalisme, persatuan, dan tanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa.

Pada akhirnya, pembelajaran di kelas X.C tersebut membawa peserta didik pada satu pemahaman penting: sejarah tidak cukup hanya dilihat dari apa yang terjadi, tetapi juga bagaimana dan mengapa peristiwa itu terjadi.

Melalui pendekatan diakronik dan sinkronik, peserta didik MAN 5 Bogor didorong untuk menjadikan sejarah sebagai sumber pengetahuan sekaligus bahan refleksi. Dengan belajar dari perjalanan masa lalu, mereka diharapkan mampu memahami masa kini dan menghadapi masa depan dengan cara berpikir yang lebih kritis, bijaksana, dan bertanggung jawab.