Detail Berita

image

Guru MAN 5 Bogor Turun Semua pada hari Jum'at 16 Oktober 2026, Ada Apa?

Guru dan Staff Tata Usaha kompak Turun ke Bilik Suara, Demokrasi Menjadi Pelajaran di MAN 5 Bogor BOGOR

— Bilik suara di MAN 5 Bogor, Jumat, 16 Oktober 2026, bukan semata tempat para siswa menentukan calon pemimpin organisasi. Para guru dan Staff Tata Usaha pun ikut masuk ke bilik suara, dalam Pemilu Raya yang digelar untuk memilih pengurus OSIS dan ekstrakurikuler masa bakti 2026/2027. Keterlibatan para pendidik itu memperlihatkan bahwa demokrasi di lingkungan madrasah bukan hanya materi yang dibahas di ruang kelas, melainkan praktik yang perlu dialami bersama. Guru dan siswa mengambil bagian dalam kegiatan tersebut dengan antusias. Melalui pemungutan suara, madrasah membuka ruang bagi warga sekolah untuk mengenal proses pemilihan, menghargai perbedaan pilihan, dan memahami bahwa kepemimpinan memperoleh legitimasi melalui mekanisme yang disepakati.

Kepala MAN 5 Bogor, Moh Syahlan, memandang Pemilu Raya sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik. Dari perspektif nilai Pancasila, kegiatan ini berkaitan erat dengan sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Siswa belajar bahwa memilih pemimpin bukan sekadar mengikuti popularitas atau kedekatan pertemanan, melainkan mempertimbangkan tanggung jawab, integritas, dan kemampuan mengemban amanah.

Sementara itu Tita Supriatin, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan berpendapat bahwa pesta demokrasi ini sebagai sarana pembelajaran kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. Organisasi OSIS maupun ekstrakurikuler bukan sekadar wadah kegiatan, tetapi ruang bagi siswa untuk berlatih menyusun program, bekerja sama, menyelesaikan persoalan, dan melayani kepentingan bersama. 

Terakhir, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum, Indra Parimarma, melihat Pemilu Raya sebagai pembelajaran kontekstual yang menghubungkan pendidikan Pancasila dengan pengalaman nyata. Dalam proses itu, siswa tidak cukup hanya mengetahui bunyi lima sila; mereka perlu menerjemahkannya menjadi tindakan, mulai dari memilih secara sadar hingga menerima hasil dengan lapang dada. Pemilu Raya MAN 5 Bogor pada akhirnya menjadi laboratorium demokrasi berskala madrasah.  (Penulis : Indra Parimarma, Jurnalis Senior LM-NEWS)